Translate

Jumat, Maret 30, 2012

Sila dalam Tipitaka, Pengertian Sila, bentuk Sila


  • Sila dalam Tipitaka
dalam Kitab Tipitaka banyak kita jumpai sutta-sutta yang mengandung penjabaran tentang sila, samadhi dan panna dalam bentuk tiga rangkaian latihan. 13 urutan pertama dan sutta-sutta didalam Kitab Digha Nikaya adalah sutta mengenai sila, samadhi dan panna. Dari sutta-sutta tersebut terlihat bahwa sila merupakan pengalaman mendasar dari agama Buddha, diantaranya;
Dalam Brahmajala sutta menyebutkan cula sila, majjima sila dan maha sila yang senantiasa dilaksanakan dan tidal dilanggar oleh Sang Buddha. Dalam Samannaphala Sutta disebutkan bahwa seorang samana harus sempurna terlatih dalam sila, terkendali indriya-indriyanya dan memiliki kewaspadaan dan memiliki pengertian benar tentang fenomena alam. Dalam Ambattha sutta secara panjang lebar sang Buddha menjelaskan kepada Brahmana Ambattha tentang Vijja (abhinna) dan Carana (perilaku yang baik). Vijja dan Carana menunjukan samadhi dan sila. Dalam Sonadanda Sutta disebutkan sila membersihkan lagi saling berkaitan antara keduanya dan pentingnya latihan sila sebelum seseorang memulai latihan samadhi.
Dalam Raithavinita Sutta, Tisso Sikkaha dijelaskan dalam bentuk tujuh kesucian (Satta Visuddhiyo), yaitu;
  1. Kesucian Sila (sila visuddhi)
  2. kesucian Manas (citta visuddhi)
  3. Kesucian Pandangan. (ditthi visuddhi)
  4. Kesucian dalam melenyapkan keragu-raguan (kankha vitarana visuddhi)
  5. kesucian pengetahuan tentang hakikat yang sesungguhnya dari jalan yang benar dan yang salah (maggamagga nanadassana visuddhi)
  6. kesucian pengetahuan tentang hakikat yang sesungguhnya dari kemajuan (patipada nanadassana visuddhi)
  7. kesucian pengetahuan tentang hakikat yang sesungguhnya dari jalan suci magga nana visuddhi).
Sila visuddhi dan citta visuddhi masing-masing merupakan sila dan samadhi, sedangkan kelima visuddhi lainnya merupakan panna. Dalam visuddhi magga dan vimutti magga dijumpai penjabaran terinci tentang ketujuh visuddhi tersebut. Kitab Visuddhimagga terdiri dari 223 Bab untuk sila dan Dutangga, 11 Bab berikutnya untuk Samadhi dan 10 Bab terakhir untuk panna.
  • Pengertian Sila
Tardisi Buddhis membicarakan demikian banyak tentang sila yang dijumpai dalam kitab-kitabnya. Buddhaghosa dalam Kitab Visuddhimagga memberikan empat sikap batin atau kehendak (cetana). Kedua menunjukan hanya pengindraan (virati) yang merupakan unsur batin (cetasika). Ketiga, menunjukan pengendalian diri (samvara) dan Keempat, menunjukan tiada pelanggaran peraturan yang telah ditetapkan (Avitikhama). Mereka disebut sila dalam pengertian Bahwa, pertama menimbulkan harmoni dalam hati dan pikiran (samadhana), dan kedua mempertahankan kebaikan dan mendukung (upadharana) pencapaian batin yang luhur. Dan ciri (lakkhana), fungsi (rasa), wujud (paccupatthana) dan sebab terdekat yang menimbulkan (padatthana) dari sila adalah sebagai berikut;
Fungsi (rasa) sila, pertama adalah menghancurkan kelakuan yang salah (dussiliya) dan kedua menjaga seseorang agar tetap tidak bersalah. Wujud (paccupatthana) sila adalah kesucian (soceyya). Kita mengenal seseorang dengan melihat rupanya, demikian pula kita mengenal sila dengan wujudnya yang suci dalam perbuatan jasmaniah. Sebab terdekat yang menimbulkan (padatthana) sila adalah adanya Hiri dan Ottappa. Hiri adalah malu berbuat salah, Ottappa adalah takut akibat perbuatan salah. Hiri-Ottapa dalah pelindung dunia. jika tidak adalagi Hiri dan Ottappa dalam diri akan berkecamuk kekacauan yang akan merugikan diri sendiri maupun masyarakat luas. Sebaliknya jika terdapat Hiri-Ottappa dunia ini penuh dengan ketentraman dan kedamaian.
Faedah sila banyak disebutkan dalam khotbah-khotbah Sang Buddha, diantaranya yang paling banyak disebut adalah ketiadaan penyesalan (avippatisara). Batin yang bebas dari penyesalan akan mendapat ketenangan dan akan mudah mencapai samadhi. Dalam Anguttara Nikaya (IV, 99) Sang Buddha bersabda kepada Ananda sebagai berikut;
"Ananda, Sila memiliki tiada penyesalan
Sebagai tujuan dan buahnya"
Dalam maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha bersabda kepada gharavasa tentang faedah dari sila, sebagai berikut; sila menyebabkan seseorang memiliki banyak kekayaan, nama dan kemasyurannya akan tersebar luas, dia menghandiri semua pertemuan tanpa takut dan keragu-raguan karena ia menyadari bahwa ia tidak akan dicela atau didakwa orang banyak, sewaktu meninggal dunia ahtinya tentram, akan terlahir disuatu tempat yang membahagiakan.
dalam Digha Nikaya (II, 69-70), Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu sebagai berikut;
"Jika seorang bhikkhu ingin dicintai dan dihormati oleh sesama bhikkhu dia harus menjalankan sila".
Kutipan-kutipan tersebut merupakan sebagian kecil tentang faedah sila yang dibabarkan oleh Sang Buddha sendiri. Sila adalah dasar penghidupan yang jujur dan merupakan tangga untuk mencapai surga. Manum, tujuan pemupukan sila adalah mencapai Nibbana. Oleh karena itu, ciri sila juga jalan untuk mencapai Nibbana. Sila dari seseorang dikatakan tidak bersih apabila sila itu telah dilanggar dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan sila itu sendiri. Bagaimanapun terjadinya pelanggaran itu, godaan adalah akar dari pelanggaran sila sehingga sila itu menjadi tidak bersih.
Noda dari sila tidak dapat dihilangkan dengan mencucinya dengan air sebanyak tujuh samudra, tidak dapat dihilangkan dengan apapun kecuali hanya dengan melaksanakan sila. sebaliknya sila dikatakan bersih apabila tidak ada pelanggaran sila. Dalam sutta-sutta disebutkan bahwa kebersihan sila dapat dipertahankan dengan menyadari bahaya dari pelanggaran sila dan manfaat mempertahankan sila.
  • Bentuk Sila
Dalam kitab buddhis disebutkan demikian banyaknya sila yang diamalkan oleh umat Buddha yang kemampuan, kesempatan dan tingkat perkembangan batin mereka berbeda-beda. Dalam Visuddhimaggasila-sila itu dikelopokan atas beberapa bagian dan diterangkan secara terinci agar mendapat gambaran seberapa jauh sila itu dihayati dan diamalkan oleh umat Buddha. Namun, dalam klasifikasi-klasifikasi itu tetap terkandung pengertian bahwa sila menimbulkan harmoni dalam batin dan mendukung tercapainya batin yang luhur. Sila itu sebenarnya hanya satu macam, tetapi bila dipandang dari berbagai aspek kelihatannya beranekaragam.
Dalam kesempatan kali ini kita tidak akan membicarakan rincian klasifikasi tersebut, tetapi beberapa yang dianggap perlu untuk diketahui untuk dihayati dan melaksanakannya dengan baik. Sila merupakan segi mendasar dalam Agama Buddha yang mencakupi, pertama batin yang dibangun dengan menghindari perbuatan buruk, dan kedua pikiran yang berhubungan dengan pelaksanaan peraturan-peraturan yang berperan untuk kebersihan sila. Dengan kata lain sila itu mempunyai dua aspek, yaitu; aspek negatif (varitta sila) dan aspek positif (carita sila).
Varitta sila menekankan pada tidak melakukan perbuatan buruk dan Carita sila menekankan perlunya seseorang menimbun perbuatan baik dan melaksanakan apa yang merupakan kewajibannya. Setiap rumusan sila mempunyai kedua aspek tersebut diatan. Misalnya, antara lain dalam Digha Nikaya (I, 63).
"(i)Ia menghindari pembunuhan, membuang pentungan dan pedang; (ii) Ia hidup dengan penuh cinta kasih dan welas asih demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua mahkluk"
Bagian pertama (i) sabda Sang Buddha tersebut diatas mengajarkan orang untuk tidak melakukan pembunuhan; bagian kedua (ii) menyayangi semua mahkluk dan meningkatkan kebahagiaan merekan. Dari sini melihat bahwa aspek negatif adalah pendahulu dari aspek positif, tetapi kedua-duanya saling bergantungan. Aspek negatif merupakan persiapan dan menyiapkan lahan yang baik untuk aspek positif. Seumpama seseorang yang akan menanam padi di sawah, maka sebelum menanam padi ia terlebih dahulu harus membersihkan sawahnya dari rumput-rumput agar padinya dapat tumbuh dengan baik dan membrikan mereka hasil yang diharapkan.
Aspek negatif mempunyai nilai menjauhkan pikiran dan objek yang bukan kebaikan dan aspek positif memusatkan seluruh pikiran pada kebaikan, sehingga semaksimal mungkin dapat melakukan kewajiban. Disamping itu, terdapat juga bentuk sila yang dinamakan Pakati sila dan Pannati sila. Pakati sila adalah sila alamiah, yang bersifat moral dan terdapat hampir semua agama serta berlaku dimana-mana tanpa dibatasi oleh waktu, misalnya pancasila. Pannati sila adalah sila yang dirumuskan oleh Sang Buddha yang khusu diperuntukan bagi cara hidup dan tujuan hidupnya yang istimewa.
Pakati sila bila dilanggar, baik oleh bhikkhu atau gharavasa akan berakibat buruk dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendapatng, misalnya membunuh mahkluk hidup. Sedangkan Pannati dila bila dilanggar oleh gharavasa tidak dicela atau tidak akan berakibat buruk. Akan tetapi, bila dilanggar oleh seorang bhikkhu maka ia akan dicela oleh para bijaksana. Misalnya, apabila makan-makanan diluar waktu yang ditetapkan atau melihat tontonan bagi seorang gharavasa tidak dicela atau akan berakibat buruk.
Sila dalam pengertian yang luas adalah menghilangkan pembawaan yang tidak baik seperti keserakahan, itikad buruk, iri hati, dll, serta menimbun perbuatan baik seperti berdana, itikad baik, kesediaan untuk memanfaatkan dll. 
Rumusan Pancasila, atthasila, dan dasasila adalah sila dalam aspek negatif yang merupakan latihan untuk memiliki  sila dan sebagai tahap dasar guna pengembangan batin agar dapat mencapai tujuan tertinggi.

Sikkhapada
Didepan telah disebutkan bahwa sila adalah sikap batin atau kehendak yang tercetus sebagai ucapan benar, perbuatan benar, dan penghidupan benar. Sila seperti itu hanya dimiliki oleh mereka yang telah mencapai tingkat kesucian. Bagi mereka yang belum mencapai tingkat kesucian itu, perlu melatih diri dengan melaksanakan peraturan-peraturan yang sesuai dengan cara hidup dan kemampuan masing-masing. Umat Buddha bila dilihat dari cara menjalani kehidupan terdiri dari dua kelompok besar, yaitu;
Gharavasa
gharavasa adalah orang yang menjalani hidup berkeluarga atau tidak; mempunyai pekerjaan, seperti; petani, pedagang, militer, dll yang memberikan penghasilan utuk biaya kehidupan mereka. Gharavasa terdiri atas; upasaka parisad dan upasika parisad.
Pabbajita
Pabbajita adalah orang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, keduniawian, dan menjalani hidup suci untuk mencapai Nibbana. Pabbajaita menerima dana yang layak bagi seorang pertapa dari Gharavasa yang memiliki saddha serta simpati. Pabbajita terdiri dari bhikkhu, bhikkhuni, samanera, dan samaneri.

Silasikkha atau sikkhapada disebut juga Vinaya. Istilah vinaya tidak hanya berarti sikkhapada untuk pabbajita saja, tetapi juga untuk gharavasa. Sikkhapada untuk gharavasa mempunyai tujuan yang sama Vinaya untuk pabbajita, yaitu menjauhkan hal-hal yang merugikan. Dengan demikian dalam agama Buddha ada dua jenis Vinaya yang akan dilaksanakan oleh dua kelompok umat Buddha, yaitu; Agariya Vinaya untuk gharavasa dan Anagariya Vinaya untuk pabbajita.

Meteri Kuliah Agama Buddha untuk Perguruan Tinggi (Kitab Suci Vinaya Pitaka) Hal 20-26. Jakarta: CV Dewi Kayana Abadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

comment by facebook